Minggu, 03 Agustus 2008

Kreatif "Creativity"

Melakukan pendekatan pada suatu kebutuhan, tugas atau ide dengan perspektif / cara pandang yang baru.

Kreatif itu adalah mengusahakan pikiran-pikiran berhikmat, perkataan-perkataan bijak dan tindakan-tindakan trampil dalam menyelesaikan kehendak Allah di dalam hidup kita.

Definisi :
kata kreatif dalam bahasa Ibrani adalah 'bara' yang berarti 'membentuk, merupakan, menampilkan', kata bara ini dipakai dalam mendefinisikan penciptaan Allah atas manusia Kej.1:27.
Kata Yatsar digunakan di dalam Kej.2:7 saat Allah membentuk manusia dari debu dan tanah. Yatsar menjelaskan tindakan seorang membentuk sesuatu untuk tujuan khusus.

Kreatifitas bukan hanya diperlukan pada saat membuat sesuatu, tetapi diperlukan pada waktu merencanakan. Dua kata berikut ini menegaskan adanya kualitas dalam berkreatifitas :

Pandai, kata pandai ini merupakan kombinasi dari ketrampilan, daya cipta, kepintaran dan kreatifitas. Esau adalah pemburu yang pandai, Daud adalah pemetik harpa yang pandai dan Daniel adalah seorang yang pandai dalam berhikmat serta pengetahuan.

Cerdik, Kecerdikan disini mengandung kemampuan dalam hal berstrategi untuk mencapai sasaran dengan menggunakan kearifan dan kebijakan dalam mengerjakan apa yang direncanakan.

Mengapa Keratifitas itu sangat penting ?
Perlu dipaham
i bahwa kreatifitas itu menentukan keberhasilan yang akan kita capai dalam hidup kita ini, keberhasilan itu sendiri adalah suatu penggenapan maksud maksud yang Allah buat bagi kita.

Allah Sang Pencipta telah membuat kita ada didalam gambarNya dan telah memberikan kita kapasitas untuk berkreasi dalam melaksanakan pekerjaan-pekerjaan baik yang dimaksud supaya Dia bekerja melalui kita. " Karena kita ini buatan Allah, diciptakan dalam Kristus Yesus untuk melakukan pekerjaan baik, yang dipersiapkan Allah sebelumnya, supaya kita hidup didalamnya " Ef.2:10

Apa Maksud dari Kreatifitas Itu ?
Yang perlu
kita pahami adalah bahwa dasar dari seluruh karakter Kristus yang ada tentunya adalah kasih kemudian cara paling tepat mengekpresikan kasih itu tiada lain adalah melakukan pekerjaan baik. Kreatifitas sangat penting sekali dalam mewujudkan suatu pekerjaan baik yang bekualitas.
  • Janganlah kamu kalah terhadap kejahatan, tetapi kalahkanlah kejahatan dengan kebaikan Rom.12:21
  • Karena itu, selama masih ada kesempatan bagi kita, marilah kita berbuat baik kepada semua orang, tetapi terutama kepada kawan kawan kita seiman. Gal.6:10.
  • Dan jadikanlah dirimu sendiri suatu teladan dalam berbuat baik. Tit,2:7
  • Ingatkanlah mereka supaya mereka tunduk pada pemerintah dan orang orang yang berkuasa, taat dan siap untuk melakukan setiap pekerjaan yang baik. Tit.3:1
  • Dan biarlah orang orang kita juga belajar melakukan pekerjaan yang baik untuk memenuhi keperluan hidup yang pokok, supaya hidup mereka jangan tidak berbuah. Tit.3:14
  • Dan marilah kita saling memperhatikan supaya kita saling mendorong dalam kasih dan dalam pekerjaan yang baik. Ibr.10:24
  • Milikilah cara hidup yang baik ditengah-tengah bangsa yahudi, supaya apabila mereka memfitnah kamu sebagai orang durjana, mereka dapat melihatnya dari perbuatan perbuatanmu yang baik dan memuliakan Allah pada hari Ia melawat mereka. 1Pet.2:12
Dengan apa Kreatifitas diaktifkan ?
Bila pemikiran pemikiran kita didasarkan kepada firmaNya, maka kreatifitas kita akan tertuju kepada maksud-maksud baik, jika pemikiran kita tidak didasarkan pada Firman Tuhan maka kreatifitas kita akan menghasilkan keakuan atau hasil yang jahat.

Sebelum Allah menciptakan dunia, Dia menetapkan didalam kehendakNya sendiri bahwa Dia kan menciptakan manusia, menyediakan Penebus dan menetapkan pekerjaan pekerjaan baik untuk umatNya ikuti. 1Pet.1:19-20; Ef.1:4; Tit 2; Ef.2:10

Adakah Peranan Firman Allah terhadap Kreatifitas ?
Tuhan Yesus berkata, " perkataan yang Kukatakan kepadamu, adalah roh dan hidup ( Yoh.6:63 ), Yesus juga berkata " jikalau kamu tinggal didalam Aku dan firmanKu tinggal didalam kamu, mintalah apa saja yang kamu kehendaki dan kamu akan menerimanya. Yoh.15:7

Bagaimanakan caranya kita meningkatkan kreatifitas ?
Kreatifitas yang kita munculkkan sebetulnya merupakan ekspresi dari hikmat.
"Aku, hikmat tinggal bersama - sama kecerdasan, dan aku mendapat pengetahuan dan kebijaksanaan" . Setiap orang percaya, memiliki kesempatan untuk menerima lebih banyak hikmat apabila ia memintanya sungguh2 kepada Allah Bapa.

Apabila kita mau sungguh sungguh meningkatkan kreatifitas kita, bukan sajakita harus memintanya dengan sungguh sungguh namun hendaklah kita berseru kuat kuat kepadaNya. " Ya jikalau engkau berseru kepada pengertian, dan menujukan suaramu kepada kepandaian, jikalau engkau mencarinya seperti mencari perak dan mengejarnya seprti mengejar harta terpendam, maka engkau akan memperoleh pengertian tentang takut akan Tuhan dan mendapat pengenalan akan Allah. Karena Tuhanlah yang memberikan hikmat, dari mulutNya datang pengetahuan dan kepandaian " ( Ams.2:3-6)

Sumber kita untuk hikmat tentu saja adalah Firman Allah, semakin kita lebih banyak belajar, mengingat serta merenungkannya , tentu semakin lebih besar dasar tau pondasi kita membangun kreatifitas yang sebenarnya.


pelajaran "Pribadi Berkarakter Kristus" PBK bulan ke 15
GKRHI Isa Almasih "Ventura Building lt.Basement" Jl. RA Kartini - Cilandak.

Minggu, 06 Juli 2008

Pengendalian Diri "Self Control"

Menolak Keinginan Yang Salah dan Melakukan Yang Benar

Definisi
:
Penguasaan diri dapat berarti berpantang atau kesederhanaan, dalam bahasa Yunani adlah "eqkrateria" yang artinya adalah penahanan diri dan pengontrolan dirinya sendiri. Adalah baik bila seseorang dapat memimpin keinginan ketika menghadapi sesuatu. Pengendalian diri itu merupakan kekuatan yang sangat potensial jika berada dalam pengendalian Roh Kudus.

" Sebagai anggota kerajaan Allah yang mempunyai roh sehat, hendaknya kita dapat mengendalikan diri agar memberi waktu untuk Tuhan berbicara kepada kita ", bagaimana Tuhan dapat berbicara kepada kita jikalau kita selalu mengumbar emosi, hawa nafsu, amarah dan waktu yang kita habiskan untuk kepentingan diri srndiri ???.

Kata lain yang berkaitan dalam Alkitab adalah 'tidak dapat menahan nafsu / incontinence yang diterangkan dalam 2 Tim 3:3 " Tidak tahu mengasihi, tidak mau berdamai, suka menjelekan orang, tidak dapat mengekang diri, garang, tidak suka yang baik "

Kepentingan Utama dari Pengendalian Diri
Pengendalian diri sangat penting dapat diwujudkan oleh setiap kita, anak-anak Kerajaan yang rindu hidup benar dan selalu berkemenangan sehingga dapat memuliakan Tuhan bahkan menerima penghargaan dari Tuhan kita Yesus Kristus. Paulus menjelaskan tentang hal ini dengan menggunakan analogi dari seorang pelari dalam suatu lomba " Tidak tahukah kamu, bahwa dalam gelanggang pertandingan semua peserta turut berlari tetapi hanya seorang saja yang menjadi pemenang ? karena itu berlarilah sebegitu rupa, sehingga kamu memperolehnya.
Kemudian Paulus menekankan nilai nilai abadi dari penguasaan diri dan pengorbanan pribadi demi suatu hasil yang akan diperoleh. "Sebab itu aku tidak akan berlari tanpa tujuan dan aku bukan petinju yang sembarang memukul tetapi aku melatih tubuhku dan menguasai seluruhnya, supaya sesudah memberitakan injil kepada orang lain, jangan aku sendiri ditolak " 1 Kor.9:26-27.
Semua kita yang empunya kerinduan memimpin orang orang lain sangat penting dan wajib menguasai dirinya. " Sebab sebagi pengatur rumah Allh, seorang penilik jemaat harus tidak bercacat, tidak angkuh, bukan pemberang, bukan peminum, bukan pemarah, tidak serakah " melainkan suka memberi tumpangan, suka akan yan baik, bijaksana, adil, saleh dan dapat menguasai diri " Titus 1:7-8.


Bagaimanakah Mengembangkan Penguasaan Diri

1. Bergabung Dalam Keluarga Kerajaan Allah.

Langkah awal Rasul Paulus menaklukan kekuatan nafsu daging adalah sengan menggabungkan dirinya / bersekutu dalam keluarga kerajaan Allah. Saat palus menjadi seorang yang beriman, dia menerima kehadiran Roh Kudus " Semua orang yang dipimpin oleh Roh Allah adlah anak Allah " Rom 8:14 Berjalan dalam kepatuhan terhadap tuntunan Roh Kudus tentu akan menghasilkan pnguasaan diri, sebab penguasaan diri itu merupakan karya Roh Kudus " buah Roh adalah kasih, sukacita... penguasaan diri " Gal.5:22-23

2. Mematuhi Pimpinan Roh Kudus
Penguasaan diri sejati itu ada setelah kita mematuhi Roh Kudus " Sebab keinginan daging adalah perseteruan / permusuhan terhadap Allah karena tidak tunduk terhadap hukum Allah, mereka yang hidup dalam daging tidak mungkin berkenan kepada Allah.

3. Mendengarkan Suara Roh.
Dengan tuntunan Roh, Paulus belajar bagaimana menaklukan keinginan keinginan yang salah.
Paulus menyatakan "Jadi saudara saudara, kita adalah orang orang berhutang, tetapi bukan kepada daging supaya hidup menurut daging, sebab jika kamu hidup menurut daging kamu akan mati ; tetapi jika oleh Roh kamu mematikan perbuatan perbuatan tubuhmu, kamu akan hidup " Roma 8:12-13. kata mematikan diatas berasal dari kata thanato yang artinya memang dimatikan !
Instruksi sejenis kepada jemaat Kolose " karena itu matikanlah dalam dirimu segala sesuatu yang duniawi, yaitu percabulan, kenajisan, hawa nafsu, keserakahan yang sama dengan penyembahan berhala " Kol.3:5 kata matikan diatas berasal dari nekroo, yang berarti memadamkan atau menaklukan.
Paulus menjelaskan program mematikan dagingnya dalam 1 Kor.9:27 " Tetapi aku melatih tubuhku dan menguasai seluruhnya, supaya sesudah memberitakan injil kepada orang lain, jangan aku sendiri ditolak " kata melatih diatas arti dari kata aslinya ialah menghajar sampai lebam, memukul sedemikian sampai bengkak dan berbaret baret seperti seorang petinju memukul / melatih badanya sendiri. "Amin".

Kuasai dan Kendalikan Dirimu
Cerita ini adalah "kisah nyata" yang pernah terjadi di Amerika.
Seorang pria membawa pulang truk baru kebanggaannya, kemudian ia meninggalkan truk tersebut sejenak untuk melakukan kegiatan lain.
Anak lelakinya yang berumur 3 tahun sangat gembira melihat ada truk baru, ia memukul-mukulkan palu ke truk baru tersebut. Akibatnya truk baru tersebut penyok dan catnya tergores.
Pria tersebut berlari menghampiri anaknya dan memukulnya, memukul tangan anaknya dengan palu sebagai hukuman. Setelah sang ayah tenang kembali, dia segera membawa anaknya ke rumah sakit. Walaupun dokter telah mencoba segala usaha untuk menyelamatkan jari-jari anak yang hancur tersebut, tetapi ia tetap gagal.
Akhirnya dokter memutuskan untuk melakukan amputasi semua jari pada kedua tangan anak kecil tersebut.
Ketika anak kecil itu sadar dari operasi amputasi dan jarinya telah tidak ada dan dibungkus perban, dengan polos ia berkata, "Papa, aku minta maaf tentang trukmu." Kemudian, ia bertanya, "tetapi kapan jari- jariku akan tumbuh kembali?"
Ayahnya pulang ke rumah dan melakukan bunuh diri.
Renungkan cerita di atas! Berpikirlah dahulu sebelum kau kehilangan kesabaran kepada seseorang yang kau cintai. Truk dapat diperbaiki, Tulang yang hancur dan hati yang disakiti seringkali tidak dapat diperbaiki.
Terlalu sering kita gagal untuk membedakan antara orang dan perbuatannya, kita seringkali lupa bahwa mengampuni lebih besar daripada membalas dendam.
Orang dapat berbuat salah tetapi tindakan yang kita ambil dalam kemarahan akan menghantui kita selamanya.
tahan, tunda dan pikirkan sebelum mengambil tindakan, mengampuni dan melupakan, mengasihi satu dengan lainnya. Ingatlah jika kau menghakimi orang, kau tidak akan ada waktu untuk mencintainya.

Hal yang paling sulit kita lakukan adalah mengalahkan musuh terbesar kita yaitu diri kita sendiri. Jika kita sudah dapat mengalahkan dan mengendalikan diri kita sendiri, berarti kita sudah mencapai tahap kecerdasan spiritual yang tinggi. Mengalahkan dan mengendalikan diri sendiri bukanlah sebuah peristiwa, tetapi sebuah kebiasaan dan kedisiplinan yang harus kita lakukan setiap hari.

Minggu, 01 Juni 2008

Toleransi "Tolerance"

" Menyadari bahwa setiap orang berada pada tingkatan yang berbeda dalam pembentukan karakter "


Definisi :
Secara teknis sebenarnya toleransi itu bervariasi sekali dalam hal ukuran / standar yang dapat diterima. Menjangka waktukan sebuah standar toleransi pemikiran yang tepat serta tingkah laku faham dan sifat lain yang dapat dinilai nantinya sebagai benar atau salah.

Suatu standar yang baik tentunya harus berdasarkan kebenaran serta fakta yang sesungguhnya.


Toleran bukan terhadap KEBENARAN, tetapi terhadap sesama saudara yang sama-sama sedang bertumbuh….

Karakter Toleran diilhami dari sikap hati untuk tetap menjaga kesatuan tubuh Kristus, dengan mengingat bahwa semua anggota memiliki tingkatan yang berbeda dalam pembentukan karakter.

Mazmur 103:13-14
Sikap Toleran dimulai dari Tuhan sendiri yang toleran dengan tingkat pertumbuhan kita, Sebab Dia sendiri tahu siapa kita.

Hal ini terlihat saat bangsa Israel berjalan keluar dari Mesir-Keluaran 12:29-38
Kejadian 33:13 – Berjalan sesuai dengan kecepatan anak-anak berjalan……

1 Yohanes 2:12-14 : Alkitab mengajarkan bahwa ada beberapa tingkatan rohani yang harus kita perhatikan.

TINGKATAN ROHANI :

Kristen Anak-anak (1 Yoh 2:12 &13)
Inti Kebenaran : Pengampunan DOSA
Kebutuhannya : Mengenal figur BAPA

Ibrani 5: 12-14, level rohani tidak ditentukan umur!!!!
1 Kor 3:1-3, terlihat sering konflik, ngambek & simpan sakit hati….

Kristen Orang Muda (1 Yoh 2:13-14)
Inti Kebenaran ~> Radikal memegang Kebenaran
Kebutuhannya ~> kamu kuat dan firman Allah diam di dalam kamu dan kamu telah mengalahkan yang jahat.

Terlihat jelas dalam semangat & gairah dalam pelayanannya!!!
Kristen Orang Muda – harus banyak ikut seminar, retreat atau bible class!!!! Karena mereka butuh banyak makanan untuk menopang pertumbuhannya….

Kristen Bapak (1 Yoh 2:13-14)
Ini adalah kelompok orang Kristen yang telah mengenal Allah secara menyeluruh.
Kehidupan rohani dan pelayanan mereka telah teruji dengan waktu.
Kebutuhan terbesar : membagikan kebenaran kepada generasi berikutnya!!!

1 Tim 5 : 17
2 Tim 2:1-2

By. Pdp. Agung Setiawan / Sari khotbah Minggu 15 Juni 2008


Toleransi kita membuka jalan pertobatan

Rencana Tuhan tidak membiarkan satu orangpun tidak selamat.
Dalam hubungan dengan orang orang yang tidak percaya, Tuhan menjadikan kita sebagai kristus untuk memberitakan Injil ke seluruh bangsa, menjadikan mereka murid Tuhan dan membaptisnya dalam nama Bapa, Anak dan Roh Kudus ( Amanat agung Tuhan Yesus ) untuk itu kita harus menunjukan sepenuh-penuh tolerasi.
  • Dalam 2 Raj.6 :8-23 diceritakan tentang tindakan Elisa dalam peperangan melawan Aram, waktu raja Aram sangat penasaran dengan tindakan raja Israel yang selalu tepat waktu, kapan dan dimana untuk menghadang tentara Aram yang hendak menyerang Israel sehingga mereka selalu dapat dikalahkan. Raja Aram mendapat masukan dari para penasehatnya bahwa di Israel ada seorang ' pelihat' segala rencana mereka, maka dari itu raja memerinthkan untuk dapat menangkap 'pelihat' tersebut yaitu Nabi Elisa di Dotan. maka raja Aram memerintahkan bala tentaranya untuk dapat menangkap Elisa, tapi apa yang terjadi ?? seluruh tentara yang menjalankan misi tersebut dibutakan matanya oleh doa Elisa dan dituntun kearah kota Samaria, sehingga ketika mata mereka dibukakan 'takut dan gentarlah mereka' karena dengan begitu tentara Israel lebih mudah untuk membunuh mereka. Tetapi dengan toleransi nabi Elisa, maka berkatalah ia kepada raja Israel " hidangkanlah makanan dan minuman didepan mereka , supaya mereka makan dan minum setelah itu suruhlah mereka pulang kepada tuannya ". Semenjak kejadian itu tidak ada sekalipun penyerangan oleh pihak Aram terhadap Israel.
  • Dalam Perjanjian Baru ( Matius 5 : 44 dan Lukas 6 :27, 35 ) Tuhan mengajarkan toleran dan mendoakan musuh kita. " Tetapi kamu, kasihilah musuhmu dan berbuatlah baik kepada mereka dan pinjamkan dengan tidak mengharapkan balasan, maka upahmu akan besar dan kamu akan menjadi anak anak Allah yang maha tinggi " Sebab Ia baik terhadap orang yang tidak tahu berterima kasij dan terhadap orang orang jahat ( Lukas 6 : 35 ).
Sari renungan GKRHI Isa Almasih 29 Juni 2008, by. Pdt. Kabar Ginting.



Minggu, 04 Mei 2008

Tepat Waktu " Punctuality "

Mendemonstrasikan penghargaan terhadap orang dan waktu dalam pertemuan-pertemuan dengan datang sebelum waktunya

KEPENTINGANNYA TEPAT WAKTU
Ketepatan waktu dapat diwujudkan oleh seseorang didasarkan oleh dua factor. Yang pertama adanya sikap menghargai waktu itu sendiri, dan yang kedua adalah sikap menghormati orang lain.
Ketepatan waktu dapat terjadi karena ada persiapan, dan kesadaran adanya jam-jam pertemuan yang disepakati serta situasi-situasi yang terjadi.
Menjadi orang yang tepat waktu adalah orang yang akan mengalami harmoni hidupnya terutama berkenaan dengan sifat dan cara Allah berurusan dengan manusia, karena Dia tidak pernah terlambat, tepat waktu adanya.
Kegagalan menepati waktu yang ditentukan dapat menggagalkan tujuan Allah dalam perjalanan hidup kita juga mengecewakan mereka yang dipaksa untuk menunggu kita. Orang-orang cenderung menghitung-hitung kesalahan mereka yang membuat mereka menunggu-nunggu. Makin lama mererka menanti, makin banyak kesalahan mereka temukan.


SEBUAH PENGHORMATAN KEPADA WAKTU
Kita semua dapat menghormati kepada waktu, karena Allahlah yang menciptakan itu. Kita tahu, Allah yang menciptakan siang, malam,minggu, bulan dan tahun-tahun. Dia juga yang menetapkan adanya musim demi musim dalam kehidupan ini.
Allah telah menetapkan kalau siang itu untuk bekerja dan malam adalah waktu untuk beristirahat.
Dia mengkehendaki kita menggunakan seluruh hari-hari kita selama enam hari bekerja dalam satu minggu lalu kita menghormati Tuhan dengan semua buah sulung yang bertambah-tambah, termasuk porsi utama dari pendapatan kita, awal dari hari-hari kita serta hari pertama dari seminggu. Bila kita tidak memiliki ketepatan waktu dihadapan Allah, pertimbangkanlah firman Tuhan berikut, “ Jadi jika seseorang tahu bagaimana ia harus berbuat baik, tetapi ia tidak melakukannya, ia berdosa” Yak.4:17
Mengakulah dihadapan Tuhan dan mulailah menuliskan langkah-langkah rencana saudara menetapkan ketepatan waktu di hadapan Tuhan.

E V A L U A S I P R I B A D I
• Apakah aku menjumpaiNya tepat waktu dalam doa dan pembacaan firman Tuhan setiap hari?
• Apakah aku sudah mulai tidur lebih awal agar bangun dapat lebih awal?
• Adakah aku datang ke kebaktian sebelum dimulai agar aku terlibat dalam melayani Tuhan dalam doa dan pujian terbaik?
• Adakah aku sudah mempersembahkan persepuluhanku tepat pada waktunya?
• Apakah aku cekatan melakukan segala sesuatu sehingga aku dapat memenuhi kebutuhan orang, yang Allah bawa aku supaya kuperhatikan?
• Adakah aku memahami adanya kesempatan-kesempatan berbagi Injil keselamatan dengan orang lain sebagaimana Allah pimpin aku?

SEBUAH SIKAP MENGHORMATI ORANG LAIN
Faktor kedua yang dibutuhkan dalam ketepatan waktu adalah menghormati sesama dan waktu yang Allah percayakan kepada mereka dan kita juga.
Waktu itu adalah merupakan satu asset yang sangat berharga. Kita semua diberikan waktu terbatas dengan sejumlah waktu yang tertentu dan bertanggung jawab kepada Allah bagaimana memanfaatkannya dengan benar.
Waktu kita membuat orang lain menantikan kita secara tidak benar, sesungguhnya kita sedang merampas waktu mereka dan menghindarkan mereka dari menyelesaikan kehendak Allah.
Kita gagal dalam mematuhi perintah ini, ”Karena itu, perhatikanlah dengan saksama, bagaimana kamu hidup, janganlah seperti orang bebal, tetapi seperti orang arif, dan pergunakanlah waktu yang ada, karena hari-hari ini adalah jahat.” Ef.5:15-16
Kita juga gagal memahami kebenaran seperti demikian: “Lost yesterday, somewhere between sunrise and sunset, two golden hours, each set with sixty diamond minutes. No reward is offered for they are gone forever”
Takkan ada manfaat yang bisa didapat dari segala sesuatu yang sudah berlalu dan tersia-siakan.
Bila kita merampas waktu orang lain dengan cara melalaikan tanggung jawab kita sehingga tak ada ketepatan waktu, itu menambah panjang lagi daftar kegagalan yang ada, maka sebaiknya bersegeralah meminta pengampunan mereka. Penuhilah janji-janji kepada seseorang yang selama ini terlalaikan, dan carilah cara agar orang itu dapat meluaskan anda bertanggung jawab membereskan tepat pada waktunya.
Buatlah hal ini menjadi prioritas bagi anda sampai ketepatan waktu menjadi konsisten berdisiplin dalam hal yang satu ini karena kita memahami pentingnya menghormati sesama.

KARAKTER-KARAKTER YANG BERHUBUNGAN DENGAN KETEPATAN WAKTU
• Pengaturan hidup dan lingkungan sekeliling kita sangat mempengaruhi ketepatan waktu
• Kreatifitas merancang lebih efisien menyelesaikan tugas sehingga makin dapat tepat waktu
• Inisiatifpun penting dalam ketepatan waktu, misalkan inisiatif meneladani grup dimana kita terlibat dengan melakukan apa yang harus dikerjakan supaya tepat waktu
• Kesabaran dengan cara memaklumi ataupun mengampuni/memaafkan mereka yang belum terbiasa tepat waktu

E V A L U A S I P R I B A D I
Seberapa tepat waktukah aku
• Apakah aku pulang tepat waktu sehingga dapat makan malam dan kumpul bersama keluarga?
• Adakah aku tiba di tempat kerja sebelum waktu kerja dimulai?
• Adakah aku menunda-nunda tagihan yang seharusnya sudah kubayarkan?
• Adakah aku sudah menaruh kartu ucapan atau sms tepat waktunya untuk dilihat?
• Sudahkah aku mengembalikan buku atau apapun yang kupinjam?
• Adakah janji-janji palsu, sekedar alasan menghindar dari tanggung jawab masih kubuat?
• Sudahkah aku menepati janji-janjiku kepada siapapun, termasuk kepada anak kecil, ataupun kepada dia yang status sosialnya lebih rendah daripadaku?

Minggu, 06 April 2008

Kesabaran "Patience"

" Menerima Situasi Sulit Tanpa Memberikan Tenggat Waktu "

Kemampuan menerima cobaan dan kesusahan sebagai sahabat dan membiarkannya membentuk karakter kita.

DEFINISI
Kata patience sangat diperlukan pada saat yang tidak diharapkan, ketika seharusnya dihadapi dengan tabah. Jadi, patience/kesabaran itu adalah sikap penerimaan kita di dalam situasi yang sulit, meluaskan Allah bekerja melalui kita tanpa batas waktu.

Dalam bahasa Ibrani disebut chiyl seperti yang ada didalam Mzm 37:7 “Berdiam dirilah di dalam Dia dan nantikanlah Dia.” Kata chiyl berarti membungkuk dalam kesakitan, seperti waktu melahirkan; mengejan; meratap, dukacita, merasa sakit ketika mau melahirkan.

Dalam Mzm 40:1 Daud menggunakan kata Ibrani yang berbeda dalam maksud yang sama. “Aku sangat menanti-nantikan Tuhan, lalu Ia menjenguk kepadaku dan mendengarku berteriak minta tolong.” Daud menggunakan kata qafah dalam kalimat ini. Kata tersebut dapat berarti menyatukan dalam kebersamaan (dengan mengikat, mengumpulkan, mengharapkan, menanti).

Dua kata dalam bahasa Yunani yang berarti kesabaran adalah hupomone dan makrothumia. Hupomone dapat diterjemahkan sebagai diam dibawah dan menunjukkan sukacita berkepanjangan atau konstan waktu dicobai. Hupomone itu berarti mengalami; memikul kesengsaraan dan keteguhan jiwa serta ketetapan hati.

Sedangkan kata makrothumia berarti kesabaran, menahan diri, keteguhan hati. Dengan iman dan makrothumia kita dapat mewarisi semua janji-janji Allah seperti tercatat dalam Ibr 6:12 “Agar kamu jangan menjadi lamban tetapi menjadi penurut-penurut mereka yang oleh iman dan kesabaran mendapat bagian dalam apa yang dijanjikan Allah.”

BAGAIMANA MENGEMBANGKAN KESABARAN
Kesabaran itu sendiri sebagai karakter dari roh kita yang memungkinkan kita meresponi segala bentuk kesengsaraan dan pencobaan dengan benar. Rasul Paulus menulis “Dan bukan hanya itu saja. Kita malah bermegah juga dalam kesengsaraan kita, karena kita tahu, bahwa kesengsaraan itu menimbulakn ketekunan, dan ketekunan menimbulkan tahan uji dan tahan uji menimbulkan pengharapan.” Rom 5:3-4.

Agar supaya kemuliaan nampak waktu dicobai, patutlah kita bersyukur kepada Allah buat semua itu dan bersukacita dalam segala limpahan berkat yang Tuhan rancangkan terjadi atas kita melalui cobaan. Hasil akhir dari suatu pemuliaan dalam penderitaan adalah saat kita mengalami kuasa kasih Allah melalui kuasa Roh KudusNya. “Dan pengharapan tidak mengecewakan karean kasih Allah telah dicurahkan didalam hati kita oleh Roh Kudus yang telah dikaruniakan kepada kita.” Rom 5:5.

Paulus menegaskan hal ini didalam surat-suratnya termasuk kepada orang percaya di Korintus. “Tetapi jawab Tuhan kepadaku: Cukuplah kasih karuniaKu bagimu, sebab justru dalam kelemahanlah kuasaKu menjadi sempurna. Sebab itu terlebih suka aku bermegah atas kelemahanku, supaya kuasa Kristus turun menaungi aku. Karena itu aku senang dan rela didalam kelemahan, didalam siksaan, didalam kesukaran, didalam penganiyaan dan kesesakan oleh karena Kristus, sebab jika aku lemah maka aku kuat.”
Penyempurnaan kesabaran melalui suatu kesengsaraan juga dinyatakan oleh Yakobus: “Saudara-saudaraku, anggaplah merupakan suatu kebahagiaan, apabila kamu jatuh ke dalam pelbagai-bagai cobaan, sebab kamu tahu, bahwa ujian terhadap imanmu itu menghasilkan ketekunan, dan biarkanlah ketekunan itu memperoleh buah yang matang, supaya kamu menjadi sempurna dan utuh dan tak kekurangan suatu apapun” Yak.1:2-4
Kata sempurna dalam bahasa aslinya disebut teleios yang berarti komplit. Dalam beberapa penerapan beragam seperti dalam hal kerja, pertumbuhan dan mental serta moral.

PENTINGNYA KESENGSARAAN BAGI PENGEMBANGAN KESABARAN
Alkitab mencatat seorang yang bernama Ayub dimana dia menjadi seorang yang terbentuk kesabarannya melalui apa yang ia alami “Sesungguhnya kami menyebut mereka berbahagia, yaitu mereka yang telah bertekun, kamu telah mendengar tentang ketekunan Ayub dan kamu telah tahu apa yang pada akhirnya disediakan Tuhan baginya, karena Tuhan maha penyayang dan penuh belas kasihan”
Keteguhan Ayub atas penderitaan merupakan contoh klasik tentang malapetaka yang dihadapi. “Datanglah seorang pesuruh kepada Ayub dan berkata:’Sedang lembu sapi membajak dan keledai-keledai betina makan rumput disebelahnya, datanglah orang-orang Syeba menyerang dan merampasnya serta memukul penjaganya dengan mata pedang. Hanya aku seorang diri yang luput, sehingga dapat memberitahukan hal itu kepada tuan’ Sementara orang itu berbicara datanglah orang lain dan berkata:’Api telah menyambar dari langit dan membakar serta memakan habis kambing domba dan penjaga-penjaga. Hanya aku seorang diri yang luput; sehingga dapat memberitahu hal itu kepada tuan’ Sementara orang itu berbicara, datanglah orang lain dan berkata:’ Orang-orang Kasdim membentuk tiga pasukan, lalu menyerbu unta-unta dan merampasnya serta memukul penjaganya dengan mata pedang dan hanya aku seorang diri yang selamat sehingga dapat memberitahukan hal itu kepada tuan’ Sementara orang itu berbicara, datanglah orang lain dan berkata:’ Anak-anak tuan yang lelaki dan yang perempuan sedsang makan-makan dan minum anggur di rumah saudara mereka yang sulung, maka tiba-tiba angin ribut bertiup dari seberang padang gurun; rumah itu dilandanya pada empat penjurunys dan roboh menimpa orang-orang muda itu, sehingga mereka mati. Hanya aku sendiri yang luput, sehingga dapt memberitahukan hal itu kepada tuan” Ayub 1:14-19
Daya tahan terhadap penderitaan dari Ayub memang mengherankan. Namun tanggapan Ayub yang melahirkan pemurnian dan penyempurnaan baginya sebagai contoh yang mana kesabaran dalam penderitaan itu pasti menghasilkan, dalam kehidupan orang percaya.
Kita tahu semua ternaknya dirampok dan para pekerjanya dibunuh kecuali tiga pelapor yang menghadap Ayub, sedang tujuh putra dan tiga putrinya tewas dalam sehari. Maka Ayub berdiri dan mengoyakkan jubahnya seraya berkata:”Dengan telanjang aku keluar dari kandungan ibuku, dengan telanjang juga aku kembali kedalamnya. Tuhan yang memberi dan Tuhan yang mengambil, terpujilah nama Tuhan!” Ayub 1:20,21
Didalam tanggapannya itu, kita melihat penyempurnaan karakter-karakter sebagai berikut:
1. Bencana menghasilkan kerendahan hati. Ayub bangkit berdiri mengoyakkan jubah dan mencukur rambut kepalanya dan menyembah.
2. Bencana meningkatkan pemujaan. Ayub tersungkur ketanah dan menyembah.
3. Bencana mendorong kerendahan hati. Ayub berkata:”Dengan telanjang aku keluar dari kandungan ibuku”
4. Bencana menjernihkan prioritas kita. Ayub berkata:”Dengan telanjang juga aku akan kembali kepadanya”
5. Bencana memicu ucapan terima kasih kepada Tuhan. Tuhan yang memberi!
6. Bencana membuat kita jadi tahu membedakan. Tuhan yang mengambil walaupun setan terlibat.
7. Bencana menghasilkan penghormatan. Terpujilah nama Tuhan!

MAKNA DUKACITA DALAM KESABARAN
Kualitas dari kesabaran kita dibentuk dengan adanya penderitaan dan kesusahan. Itu ada dalam definisi dari kalimat-kalimat diatas.
Penderitaan dan kesusahan menuntut kesabaran yang memiliki akibat pemurnian pada mereka yang bertahan. Rasul Petrus menekankan hal ini. “ Dan Allah, sumber segala kasih karunia, yang telah memanggil kamu dalam Kristus kepada kemuliaanNya yang kekal, akan melengkapi, meneguhkan, menguatkan dan mengokohkan kamu, sesudah kamu menderita seketika lamanya.(1 Pet.5:10)
Dalam penderitaan kita tanggung dengan kesabaran itu sangat berguna dalam kehidupan mereka yang memperhatikan pertumbuhan iman selama kita menanggung penderitaan.
Rasul Paulus menjelaskan bahwa semakin kita mengalami penderitaan dan kematian, semakin kuasa kebangkitan itu bekerja didalam dan melalui diri kita untuk menghidupkan orang lain.”Tetapi harta ini kami punyai dalam bejana tanah liat, supaya nyata, supaya kekuatan yang melimpah-limpah itu berasal dari Allah, bukan dari diri kami. Dalam segala hal kami ditindas, namun tidak terjepit; kami habis akal, namun tidak putus asa; kami dianiaya, namun tidak ditinggalkan sendirian, kami dihempaskan, namun tidak binasa. Kamisenantiasa membawa kematian Yesus di dalam tubuh kami, supaya kehidupan Yesus juga menjadi nyata di dalam tubuh kami. Sebab kami, yang masih hidup ini, terus menerus diserahkan kepada maut karena Yesus, supaya juga hidup Yesus menjadi nyata didalam tubuh kami yang fana ini. Maka demikianlah maut giat di dalam tubuh kami dan hidup giat di dalam kamu. (2 Kor.4:7-12)
Paulus menggunakan kesabaran seorang ibu dalam proses melahirkan, sebagai kebenaran yang dituntut juga kesabaran bila kita memberitakan injil supaya mereka memiliki keselamatan serta dalam pertumbuhannya sampai mencapai tingkat kedewasaannya.. “Hai anak-anakku, karena kamu aku menderita sakit bersalin lagi, sampai rupa Kristus menjadi nyata di dalam kamu. (Gal.4:19)

MENGAPA KESABARAN ITU BEGITU PENTING
1. Menyaksikan kesudahan orang jahat. “Berdiam dirilah di hadapan Tuhan dan nantikanlah Dia dengan sabar; jaangan marah karena orang yang berhasil hidupnya, karena orang yang melakukan tipu daya, karena orang yang membawa rencana kejahatan berlalu.
2. Menghasilkan tuaian yang baik. “ Yang jatuh di tanah yang baik itu ialah orang, yang setelah mendengar firman itu, menyimpannya dalam hati yang baik dan mengeluarkan buah dalam ketekunan/kesabaran”.
3. Memperoleh hidup. “Kalau kamu tetap bertahan/kesabaran, kamu akan memperoleh hidupmu”
4. Hidup kekal bagi mereka yang mencari kemuliaan dan hormat. “Yaitu hidup kekal kepada mereka yang dengan tekun/sabar berbuat baik, mencari kemuliaan, kehormatan dan ketidakbinasaan” Rom. 2:7
5. Menunjukkan diri diakui sebagai pelayan. “Sebaliknya, dalam segala hal kami menunjukkan, bahwa kami adalah pelayan Allah, yaitu: dalam hal menahan dengan penuh kesabaran dalam penderitaan, kesesakkan dan kesukaran” 2 Kor.6:4
6. Mempersiapkan diri menjelang kadatanganNya. “Kamu juga harus bersabar dan harus meneguhkan hatimu, karena kedatangan Tuhan sudah dekat!” Yak.5:8 “ Kiranya Tuhan tetap menujukan hatimu kepada kasih Allah dan kepada ketabahan/kesabaran menantikan Kristus” 2 Tes.3:5
7. Menjadi pemimpin yang berkualitas. “Sedangkan seorang hamba Tuhan tidak boleh bertengkar, tetapi harus ramah terhadap semua orang. Ia harus cakap mengajar, sabar” (2 Tim.2:24)
8. Berlari dalam perlombaan yang baik. “Karena kita mempunyai banyak saksi, bagaikan awan yang mengelilingi kita, maruilah kita menanggalkan semua beban dan dosa, yang begitu merintangi kita, dan berlomba dengan tekun/sabar dalam perlombaan yang diwajibkan bagi kita. Marilah kita melakukannya dengan mata yang tertuju kepada Yesus, yang memimpin kita dalam iman, dan yang membawa iman kita kepada kesempurnaan, yang dengan mengabaikan kehinaan tekun memikul salib ganti sukacita yang disediakan bagi Dia, yang sekarang duduk di sebelah kanan tahta Allah.” Ibr.12:1,2

U P A H K E S A B A R A N
1. Melihat Allah menjawab doa kita. “Aku sangat menanti-nantikan Tuhan; lalu Ia menjenguk kepadaku dan mendengar teriakku minta tolong” Maz.40:1
2. Memiliki pengharapan di dalam Allah. “ Sebab segala sesuatu yang ditulis dahulu, telah ditulis untuk menjadi pelajaran bagi kita, supaya kita teguh berpegang pada pengharapan oleh ketekunan/kesabaran dan penghiburan dari kitab suci” Rom. 15:4
3. Diperbaharuinya kekuatan kita. “ Dan dikuatkan dengan segala kekuatan oleh kuasa kemuliaanNya untuk menanggung segala sesuatu dengan tekun dan sabar” Kol.1:11 “ Tetapi orang yang menanti-nantikan Tuhan mendapat kekuatan baru; mereka seumpama rajawali yang naik terbang dengan kekuatan sayapnya; mereka berlari dan tidak menjadi lesu, mereka berjalan dan tidak menjadi lelah” Yes.40:31
4. Mewarisi janji-janji Allah. “Agar kamu jangan menjadi lamban, tetapi menjadi penurut-penurut mereka yang oleh iman dan kesabaran mendapat bagian dalam apa yang dijanjikan Allah….dan dengan demikian ia memperoleh apa yang dijanjikan kepadanya” Ibr.6:12,15 “Sebab kamu memerlukan ketekunan/kesabaran, supaya setelah kamu melakukan kehendak Allah, kamu memperoleh apa yang dijanjikan itu” Ibr.10:36
5. Menjadi orang percaya yang dewasa. “Dan biarlah ketekunan/kesabaran itu memperoleh buah yang matang, supaya kamu menjadi sempurna dan utuh dan tak kekurangan sesuatu apapun” Yak.1:4
6. Mendapatkan persetujuan Allah. “Sebab dapatkah disebut pujian, jika kamu menderita pukulan karena kamu berbuat dosa? Tetapi jika kamu berbuat baik dan karena itu kamu harus menderita dengan sabar, maka itu adalah kasih karunia pada Allah” 1 Pet.1:20

Nasihat yang diberikan oleh Yakobus tentang kesabaran, dia sanghat menekankan kepentingannya bersabar serta upah dari kesabaran itu sendiri.” Karena itu, saudara-saudara, bersabarlah sampai pada kedatangan Tuhan! Sesungguhnya petani menantikan hasil yang berharga dari tanahnya dan ia sabar sampai telah turun hujan musim gugur dan dan hujan musim semi.
Kamu juga harus sabar dan harus meneguhkan hatimu, karena kedatangan Tuhan sudah dekat! Saudara-saudara, janganlah kamu bersungut-sungut dan saling menyalahkan, supaya kamu jangan dihukum. Sesungguhnya Hakim telah berdiri di ambang pintu. Saudara-saudara, turutilah teladan penderitaan dan kesabaran para nabi yang telah berbicara demi nama Tuhan. Sesungguhnya kami menyebut mereka berbahagia, yaitu mereka yang telah bertekun; kamu telah mendengar tentang ketekunan/kesabaran Ayub dan kamu telah tahu apa yang pada akhirnya disediakan Tuhan baginya, karena Tuhan maha penyayang dan penuh belas kasihan”
Yak.5:7-11
Setelah Ayub berhasil melampaui ujian kesengsaraan, Allah melimpahi dia dua kali lipat dari semua yang dia miliki sebelumnya.

EVALUASI PRIBADI
Seberapa sabarkah anda?
1. Sadarkah aku bahwa hasil akhir dari segala sesuatu yang dialami ada di tangan Tuhan?
2. Adakah aku menantikan orang lain sebagai kesempatan belajar menantikan Allah?
3. Apakah aku memberi diri untuk mendengar suara Tuhan waktu berdoa?
4. Adakah aku menanti Tuhan menjawab doa-doaku menurut waktuNya?
5. Apakah aku tetap mengerjakan tanggung-jawabku sementara aku menantikan Tuhan ataupun orang-orang lain?
6. Adakah aku memandang wajah Tuhan saat menanti provisi daripadaNya?
7. Apakah aku bersuka saat menahan sakit dan derita?
8. Sabarkah aku membimbing mereka yang menjadi tanggung-jawabku?
9. Adakah aku bergirang atau kepahitan, waktu penderitaan yang terakhir kualami?

Minggu, 02 Maret 2008

Pengampunan "Forgiveness"

PENGAMPUNAN itu menyatakan sesuatu dengan kuasa kasih Allah yang dapat menyembuhkan mereka orang yang bersalah.

DEFINISI :


Pengampunan itu bagaikan penghapusan suatu catatan dari seseorang yang bersalah dan memilih hidup dengan kelanjutan hidup dari suatu akibat pelanggaran.
Kata utama dalam Kitab Suci untuk pengampunan adalah aphesis, yang bermakna membubarkan, melepas atau mengampuni. Kata aphesis berasal dari turunan akar kata aphiemi yang artinya mengirim atau mengusir.
Aphiemi adalah kata yang juga digunakan oleh Tuhan Yesus waktu Ia berkata: “Ampuni kesalahan kami seperti kami mengampuni orang yang bersalah kepadaku.” (Mat.6:12)
Kata Yunani untuk pengampunan adalah charizomai. Kata ini berarti melakukan sesuatu yang menyenangkan atau dapat disetujui; melakukan yang berkenan; memberi dengan murah, memberi dengan leluasa.” Kata-kata ini biasa digunakan oleh Paulus dalam tulisan-tulisannya,”Tetapi hendaklah kamu ramah terhadap yang lain, penuh kasih mesra dan saling mengampuni, sebagaimana Allah didalam Kristus telah mengampuni kamu.” (Ef.4:32)

MENGAPA PENGAMPUNAN BEGITU PENTING?

Ada akibat-akibat yang sangat serius bagi seseorang yang menolak untuk mengampuni orang yang bersalah. Telah tercatat hal-hal serius terjadi pada perkara jasmani, mental, emosi dan rohani seseorang yang menolak untuk mengampuni :
• Kita tidak mendapat pengampunan! Tuhan Yesus berkata,”Karena jikalau kamu mengampuni kesalahan orang, Bapamu di Sorga akan mengampuni kamu juga. Tetapi jikalau kamu tidak mengampuni orang, Bapamu juga tidak akan mengampuni kesalahanmu.” (Mat.6:14-15).
• Kita tersiksa. Saat seorang hamba yang diampuni punya hutang yang besar tapi menolak mengampuni sesamanya atas hutang yang jauh lebih kecil daripadanya, Tuhan berkata, ”Hai hamba yang jahat, seluruh hutangmu telah kuhapuskan karena engkau memohonkannya kepadaku. Bukankah engkau sendiri harus mengasihani kawanmu seperti aku telah mengasihani engkau? Maka marahlah tuannya itu dan menyerahkannya kepada algojo-algojo, sampai ia melunaskan seluruh hutang-hutangnya. Maka BapaKu yang di Sorga akan berbuat demikian juga terhadap kamu, apabila kamu masing-masingtidak mengampuni saudaramu dengan segenap hatimu.” (Mat.18:32-35).
• Kita tercemar. Saat kita bersalah, sesungguhnya Allah memberi kasih karunia mengampuni pelanggaran kita. Jadi kita diminta “Berusaha hidup damai dengan semua orang dan kejarlah kekudusan, sebab tanpa kekudusan tidak seorangpun akan melihat Tuhan. Jagalah supaya jangan ada seorangpun menjauhkan diri dari kasih karunia Allah, agar jangan tumbuh akar pahit yang menimbulkan kerusuhan dan yang mencemarkan banyak orang.” (Ibr.12:14-15).
• Kita sedang merusak kesehatan kita sendiri. Pada waktu kita menolak mengampuni orang yang bersalah, kita sendiri tidak akan mampu menelaah dengan tepat meja Tuhan. “Sebab itu banyak diantara kamu yang lemah dan sakit, dan tidak sedikit yang meninggal.” (1 Kor.11:30) baca ulang juga Mat.6:14-15 yang diatas.

BAGAIMANA PENGAMPUNAN BERKAITAN DENGAN MAAF

Jika seseorang membunuh salah satu anggota keluarga kita, kita ini harus mengampuni orang itu. Bagaimanapun, kita tidak memiliki otoritas member maaf, karena kita juga tak memiliki otoritas menghukum orang yang bersalah. Jadi, tanpa pengampunan kitapun orang itu akan menanggung hukuman akibat perbuatannya itu. Pengampunan yang kita berikan itu menghapus segala catatan orang yang bersalah serta untuk memulihkan hubungan kita dengan Sorga. Bagaimanapun, benih-benih penghancuran boleh jadi berlanjut yang memiliki akibat yang fatal bagi orang yang yang bersalah tersebut.
Setelah Daud berbuat zinah dengan menghampiri Batseba serta merancang pembunuhan atas suaminya, ia bertobat. Lalu “Nathan berkata kepada Daud:”Tuhan telah menjauhkan dosamu itu: engkau tidak akan mati” (2 Sam.12:13) Dosa Daud memang diampuni, namun ada akibat oleh sebab perbuatannya itu “Beginilah firman Tuhan: Bahwasanya malapetaka akan Kutimpakan atasmu yang datang dari kaum keluargamu sendiri. Aku akan mengambil isteri-isterimu didepan matamu dan memberikannya pada orang lain” (2 Sam.12:11)

BAGAIMANA KITA BELAJAR MENGAMPUNI

Apabila orang ditanya yang andaikan ia dapat mengingat seseorang yang menyakiti hatinya begitu dalam atau bersalah pada mereka, mereka biasanya menjawab,”Ya!” waktu ditanya adakah mereka sudah mengampuni. Namun pertanyaan berikut selayaknya diajukan, adakah orang ini telah sepenuh-penuhnya mengampuni?
Kegagalan mengampuni menghasilkan kepahitan! Dan kepahitan itu adalah seperti penyakit lepra! Mereka yang mengidap lepra pasti kehilangan syaraf rasa nyeri; mereka itu tidak waspada atas situasi dan keadaan yang sedang menyakiti dirinya sendiri. Begitulah juga orang yang mengidap kepahitan amat tidak peka apakah kata-kata, sikap dan perbuatannya itu menyakiti orang lain atau tidak, sebab ia sendiri tidak sensitive lagi!
Untuk memotivasi umatNya mengampuni, Allah menggunakan perintah-perintah, perbandingan-perbandingan dan konsep-konsep.

PERINTAH-PERINTAH UNTUK MENGAMPUNI

• Ef.4:32. Tetapi hendaklah kamu ramah seorang terhadap yang lain, penuh kasih mesra dan saling mengampuni, sebagaimana Allah di dalam Kristus mengampuni kamu.
• Kol.3:13. Sabarlah kamu seorang terhadap yang lain, dan ampunilah seorang akan yang lain, sama seperti Tuhan telah mengampuni kamu, kamu perbuat jugalah demikian.
• Luk 6:37. Janganlah kamu menghakimi, maka kamupun tidak akan dihakimi. Dan janganlah kamu menghukum, maka kamupun tidak akan dihukum; ampunilah maka kamu akan diampuni.
• Luk 17:3. Jagalah dirimu! Jikalau saudaramu berbuat dosa, tegorlah dia, dan jikalau ia menyesal, ampunilah dia.


KONSEP DALAM MEMAHAMI PENGAMPUNAN

• Memohon belaskasihan vs memohon kesempatan. Hamba yang menolak mengampuni sesamanya yang berhutang sedikit, yang dimana ia sendiri telah dilepaskan dari hutang yang besar ia tidak mampu memberi belaskasihan, karena ia sendiri tidak memintanya. Ia memohon sebagai gantinya kesempatan lagi,”katanya: Sabarlah dulu, segala hutangku akan kulunaskan” (Mat.18:26) Tuan yang bijaksana akhirnya menyerahkan kepada algojo-algojo di penjara yang menyadarkan dia bahwa ia tak pernah mampu mengembalikan hutang-hutangnya. Kecuali kemudian dia akan memintakan belas pengasihan grasi serta akan menaruh belas pengasihan terhadap sesamanya. (Luk.7:41-48)
• Hati nurani yang murni vs Bereaksi keras. Sewaktu Daud mendengar kasus orang yang mengambil domba peliharaan tetangganya demi tamu si orang kaya, Daud menjadi marah dan memerlukan penghukuman yang ekstrim. Aturan yang berlaku hanya membutuhkan 4 ekor domba sebagai ganjaran orang yang berbuat demikian. Kita lihat Daud tidak mampu menyatakan keadilan ataupun belas kasihan, karena dia sendiri berdosa dalam pelanggaran yang sejenis. Saat kita menjadi keras dalam memvonis sesama kita, sesungguhnya kita kena vonis yang sama sebab kita melakukan pelanggaran yang sama pula. Lihat Rom.2:1-3
• Memiliki tujuan kasih ilahi vs Memiliki tujuan balas dendam. Ada tiga langkah bagi setiap kita untuk menerima kuasa Roh Allah. Yang pertama adalah menjadi penuh dengan Roh Kudus, dimana kita menerima Kristus sebagai Tuhan dan Juru Selamat pribadi kita lalu meminta kepada Bapa dan Yesus Pembaptis dengan Roh itu untuk memenuhkan kita. (Rom.8:15; Luk.11:13; Ef.5:18) “Kamu menerima Roh yang menjadikan kamu anak Allah” “Apalagi Bapamu yang di Sorga! Ia akan memberikan Roh Kudus kepada mereka yang meminta kepadaNya” “Hendaklah kamu penuh dengan Roh” Langkah yang kedua adalah sedia dipimpin Roh sebagaimana Yesus mengalami tuntunan ke padang gurun dan Paulus juga memberitahukan jika ia senang dan rela di dalam kelemahan dan di dalam siksaan, di dalam kesukaran dan di dalam penganiayaan serta kesesakan oleh karena Kristus. Sebab jika ia lemah maka ia kuat. Begitupun bila kita mau dan rela mengucap syukur di dalam setiap cobaan dan penderitaan karena kebenaran Firman serta berseru kepada Tuhan. Saat kita dapat melampaui semua ujian dalam pimpinan Roh, kita dapat mengalami kuasa Roh Allah yang memancarkan kasih, sukacita dan damai sejahtera. Pola ini diilustrasikan dalam kehidupan Kristus yang Ia dipenuhi Roh dan dipimpin Roh ke padang gurun lalu Dia kembali didalam kuasa Roh. (Luk.4:1-14) Urutan seperti inipun ada pada setiap kita. Pertama, kita dipanggil untuk menjadi kudus dan berdedikasi hidup kita kepada Tuhan. (Rom.12:1-2) Kedua, kita dipanggil untuk menderita. (Fil.3:10) Ketiga, kita dipanggil kepada kemuliaan kuasa Allah atas hidup kita. (1 Pet.5:10) “Dan Allah, sumber segala kasih karunia, yang telah memanggil kamu dalam Kristus kepada kemuliaanNya yang kekal, akan melengkapi, meneguhkan, menguatkan dan mengokohkan kamu, sesudah kamu menderita seketika lamanya” Kemuliaan itu mengikuti penderitaan. Sebagai contoh,”Berbahagialah kamu bila kamu dinista karena nama Kristus, sebab Roh Kemuliaan, yaitu Roh Allah ada padamu” (I Pet.4:14) Jikalau hal sedemikian tidak kita pahami, setan bisa memanfaatkannya demi supaya kita mengalami kepahitan yang membuat kita sulit memberi pengampunan dan membuat kerusakan hidup kita.
• Pembangunan tubuh Kristus vs menceraikan umat. Paulus menerangkan bahwa setiap orang percaya itu ada anggota tubuhNya yang terhubung satu dengan yang lainnya. Jadi bila kita menolak mengampuni saudara kita sendiri yang se-dna, kita sedang menolak mengampuni diri sendiri. Pengakuan saudara seiman yang se-dna sebagai anggota tubuh Kristus ditujukan terhadap panggilan Jamuan Kudus Meja Tuhan. Mereka yang menyangkali konsep ini sebetulnya tidak mengakui tubuh Tuhan,”Jadi barangsiapa dengan cara tidak layak makan roti atau minum cawan Tuhan, ia berdosa terhadap tubuh dan darah Tuhan. Karena itu hendaklah tiap-tiap orang menguji dirinya sendiri dan baru setelah itu makan roti dan minum dari cawan itu. Karena barangsiapa makan dan minum tanpa tubuh Tuhan, ia mendatangkan hukuman atas dirinya. Sebab itu banyak diantara kamu yang lemah dan sakit, dan tidak sedikit yang meninggal” (1 Kor.11:27-30).
• Memiliki persekutuan melalui perderitaan vs kelemahan. Paulus berbicara tentang kuasa kebangkitan yang tersedia untuk semua orang percaya yang ingin melanjutkan perjalanan iman melalui penderitaan.”Yang kukehendaki ialah mengenal Dia dan kuasa kebangkitanNya dan persekutuan dalam penderitaanNya, dimana aku menjadi serupa dengan Dia dalam kematianNya” (Fil.3:10) Semua orang percaya dipanggil untuk mati terhadap kepuasan dagingnya sendiri supaya kita dapat mengalami lebih lagi kuasa Kristus. Ini adalah kuasa yang sama diberikan kepada mereka yang berkemenangan melampaui test penderitaan. (2 Kor.12:9)”Sebab itu terlebih suka aku bermegah atas kelemahanku, supaya kuasa Kristus turun menaungi aku”. Penderitaan sedemikian juga dijelaskan oleh Petrus kepada mereka, orang percaya.”Dan janganlah membalas kejahatan dengan kejahatan, atau caci maki dengan caci maki, tetapi sebaliknya hendaklah kamu memberkati, karena untuk itulah kamu dipanggil, yaitu untuk memperoleh berkat” (1 Pet.3:9).

MENGEMBANGKAN ROH PENGAMPUNAN

1. Pandanglah orang yang bersalah sebagai alat di dalam tangan-tangan Allah
2. Bersyukurlah kepadaNya atas keuntungan-keuntungan yang Dia rancangkan dari sebuah kesalahan
3. Tentukan karakter apa Allah inginkan kita kembangkan didalam kita melalui sesuatu yang menyakitkan itu
4. Sadarilah bahwa penderitaan itu bagian yang lazim dalam kehidupan kristiani

DUA BERKAT BAGI MEREKA YANG MENGAMPUNI

1. Berkat pertama kepada mereka yang dipersalahkan tapi mengampuninya adalah ekstra takaran anugrah Allah. (Ibr.12:15) “Jagalah supaya jangan ada seorangpun menjauhkan diri dari kasih karunia Allah”
2. Berkat kedua bagi mereka yang rela dihina adalah Allah merancangkannya untuk kebaikan! (Kej.50:20) “Memang kamu telah mereka-rekakan yang jahat terhadap aku, tetapi Allah telah mereka-rekakannya untuk kebaikan, dengan maksud melakukan seperti yang terjadi sekarang ini, yakni memelihara hidup suatu bangsa yang besar”.



EVALUASI PRIBADI DEMI KELUASAN PENGAMPUNAN

1. Adakah saudara bertujuan dalam hidup untuk mendapatkan kuasa kasih Kristus?
2. Adakah orang-orang yang belum mendapatkan pengampunan saudara secara penuh?
3. Adakah saudara melihat bahwa penghinaan sebagai ujian menuju sukacita abadi?
4. Takutkah saudara bahwa bila saudara mengampuni orang yang bersalah dia tidak belajar dari kesalahannya itu?
5. Percayakah tanggung jawab saudaralah yang membuat orang bersalah kepada saudara itu terhukum?
6. Adakah saudara takut bahwa mengampuni orang yang bersalah memicu dia melakukan kesalahan lagi?
7. Adakah pemikiran orang yang berbuat kesalahan kepada saudara membawa sakit dan melukai saudara?
8. Adakah saudara membandingkan penghinaan terhadap diri saudara dengan tindakan salah saudara yang sedemikian kepada Kristus?
9. Sudahkah saudara cari jalan kembali pada kebajikan terhadap mereka yang jahat terhadap diri saudara?
10. Adakah saudara menggambarkan orang yang bersalah itu juga sebagai orang percaya yang sedang dihubungkan Tuhan sebagai anggota tubuh Kristus, satu dna?

Selasa, 26 Februari 2008

Inisiatif

Bertindak berdasarkan rhema yang Allah berikan kepada kita di dalam firmanNya

DEFINISI
Inisiatif dapat diekspresikan dengan dua cara: yakni melalui perbuatan dan melalui pikiran. Dalam bahasa Ibrani disebut chasab atau berpikir. Kata tersebut dapat didefinisikan sebagai bagian pemikiran dari inisiatif. Kata itu berarti berencana, berhitung, mereka-reka, imajinasi.
Namun dalam bahasa Yunani, untuk kata mengerjakan, sering dipakai kata poieo, yang yang didefinisikan bagian tindakan dari inisiatif. Kata itu berarti membuat, menghasilkan, menjalankan, membentuk.
Inisiatif itu didasarkan pada iman dari pengenalan akan kehendak Allah melalui rhema firman Tuhan dan pekerjaan yang dijalankan.
Inisiatif yang tidak dihasilkan oleh iman dapat merupakan kejahatan.

MENGAPA INISIATIF ITU BEGITU PENTING
Inisiatif dapat dikatakan sebagai dasar fondasi dari semua karakter yang ditampilkan. Inisiatif merupakan hal pertama yang ada pada Allah untuk mendemonstrasikan kasihNya kepada kita dan seharusnya merupakan kualitas karakter yang mula pertama dimunculkan dalam merespon kasihNya itu. Inisiatiflah yang melihat dan melakukan apa yang perlu dikerjakan sebelum hal itu diminta! Inisiatif dapat bergerak menggunakan kekuatan Allah berupa kasih karunia untuk mencapai kehendakNya, sebagaimana itu dipimpin oleh Roh Kudus.
Sebelum dunia ini terbentuk, Allah berinisiatif menyediakan penebusan bagi kita.
“ Sebab kamu tahu, bahwa kamu telah ditebus dari cara hidupmu yang sia-sia yang kamu warisi dari nenek moyangmu itu bukan dengan barang yang fana, bukan pula dengan perak atau emas, melainkan dengan darah yang mahal, yaitu darah Kristus, yang sama dengan darah anak domba yang tak bernoda dan tak bercacat. Ia telah dipilih sebelum dunia dijadikan, tetapi karena kamu baru menyatakan diriNya pada zaman akhir”
1 Pet.1:18-20
Dia juga mendemonstrasikan inisiatifNya dengan menciptakan langit dan bumi seperti yang tertulis dalam Kej.1:1
Inisiatif sangat dibutuhkan untuk dapat mengembangkan dan mewujudkan karakter-karakter lainnya, entahkah itu bersyukur, mengampuni, kerajinan, ataupun sukacita. Inisiatif juga tentunya penting dalam menggenapi tuntutan isi Alkitab seperti ‘Doa tanpa berkeputusan” “Carilah harta di Surga” “ Kasihilah sesamamu manusia” “ Pergilah sampai ke ujung dunia” dll.

BAGAIMANA INISIATIF DAPAT DIAKTIFKAN
Inisiatif dapat diaktifkan oleh pikiran dan perkataan. Alkitab telah mengajar kita bahwa kuasa ada pada perkataan kita dan pikiran kita.” Sebagaimana dia berpikir dalam hatinya, demikianlah ia” Ams.23:7
“Menaklukkan setiap pikiran untuk taat kepada Kristus” 2 Kor.10:5 “ Hidup atau mati dikuasai oleh lidah, siapa suka menggemakannya akan memakan buahnya” Ams.18:21
Dengan perkataan-perkataan kita, kita dapat melakukan kehendak Allah atau pekerjaan setan. Jadi, “Dengan kata-katamu engkau akan dibenarkan, dan dengan kata-katamu engkau akan dihukumkan” Mat.12:37
Saat Allah membentuk dunia ini, Ia membangkitkan energi penciptaan dengan kata-kata. “Alam semesta telah dijadikan oleh firman Allah, sehingga apa yang kita lihat telah terjadi dari apa yang tidak dapat kita lihat” Ibr.11:3
Firman Allah dicatat dalam penciptaan berbunyi demikan:” Dan Allah berfirman, Jadilah terang; maka terangpun jadi” Kej.1:3 “ Dan berfirmanlah Allah, Jadilah cakrawala ditengah segala air untuk memisahkan air dari air” Kej.1:6 Tercatat delapan kali dituliskan Allah berfirman dan penciptaan terwujud.
Perkataan itu adalah dasar dari suatu inisiatif penebusan yang terjadi. Tuhan kita Yesus itu adalah Sang Firman Allah yang Menghidupkan. “Bermula adalah Firman, dan Firma nada bersama-sama dengan Allah, dan Firman itu adalah Allah” Yoh.1:1
Allah telah menginisiatifkan keselamatan kita melalui Kata-kata, dan kita menerima keselamatan oleh karena Perkataan. “ Jika engkau mengaku dengan mulutmu, bahwa Yesus adalah Tuhan, dan percaya dalam hatimu, bahwa Allah telah membangkitkan Dia dari antara orang mati, maka kamu akan diselamatkan” Rom.10:9

KAPANKAH INISIATIF MENJADI SUATU K E J A H A T A N
Kita dapat saja melakukan suatu inisiatif untuk melakukan sesuatu yang baik, namunpun demikian dapat juga menjadi suatu pekerjaan kejahatan! Jika kita mau menghindar dari suatu kejahatan, maka kita mesti mengikut Yesus dan mengijinkan Roh Kudus bekerja melalui diri kita memunculkan inisiatif yang kudus dan benar yang akan membawa kita kepada tindakan yang seharusnya.
Adalah Roh Kudus yang membuat kita menerima kasih karunia, berupa kerinduan dan kuasa untuk melakukan kehendakNya.
Adalah Roh Kudus juga yang membimbing kita melalui kebenaran alkitabiah, berupa rhema kedalam hidup kita. Kita dapat mengambil inisiatif berdasarkan rhema tadi serta mengetahui dengan pasti apa-apa yang menjadi kehendakNya.
Janji dalam Yoh.15:7-8; “ Jikalau engkau tinggal didalam Aku, dan firmanKu tinggal didalam kamu, engkau akan meminta apa yang engkau kehendaki dan itu akan dilakukan untukmu. Dalam hal inilah BapaKu dimuliakan, bahwa kamu menghasilkan banyak buah, dan dengan demikian kamu menjadi murid-muridKu”

BAGAIMANA DAUD MENGGAMBARKAN INISIATIF YANG ADA
Daud menulis dalam Maz.37:4,” Bergembiralah karena Tuhan; maka Ia akan memberikan kepadamu apa yang diinginkan hatimu”
Dengan kata lain, Tuhan akan menempatkan kerinduanNya didalam hati kita saat kita memberi diri bergembira menyambut Dia. Hal ini sangat penting dipahami untuk bisa memeriksa dengan benar adanya kerinduan dalam diri kita dalam terang firmanNya, serta mengkonfirmasikannya dengan rhema kitab suci.
Kitab suci memberi Daud title yang mengagumkan “seorang yang berkenan di hati Allah” Kis.13:22
Bahkan, sekalipun Daud masih teramat muda, Daud telah mendemonstrasikan suatu inisiatif yang mengherankan. Sebagai seorang penggembala domba, dia telah begitu banyak menggunakan waktunya saat ia menjagai domba-dombanya untuk merenungkan taurat Tuhan siang dan malam serta mengingat hukum-hukum Tuhan, dengan trampil ia menggunakan alat musik harpa memuji-muji kebesaranNya. Ia juga dapat menggunakan umban dengan tepat menghalau binatang buas pemangsa domba peliharaannya.
Semua ini membuat dia menjadi penggembala yang sangat trampil yang dipersiapkan Tuhan menjadi pemimpin bani Israel.
Sebagai raja, ia pernah berinisiatif untuk membangun bait Allah. Perhatikanlah bagaimana inisiatifnya itu dimulai dengan kata-kata:” Raja berkata kepada nabi Nathan, Lihatlah sekarang, aku ini tinggal dalam rumah dari kayu aras, tetapi tabut Allah tinggal dibawah tenda” 2 Sam.7:2 Sekalipun Allah menyatakan bahwa tidak mungkin sebuah rumah menampung diriNya dan Daud tidak ditentukan untuk membangun bait, Tuhan yang menghargai inisiatif Daud menunjuk Salomo diijinkan untuk membangun, namun perhatikanlah bagaimana Daud mengelola semua harta benda jarahan perang dan dipersiapkan sebagai pernyataan kerinduan dan kecintaannya bagi pembangunan sebuah bait yang sangat megah. 1 Taw.29:1-5

BAGAIMANA MENGUJI INISIATIF ADA DI DALAM KITA
Saat para pemimpin kita mulai peduli Allah kita dipermuliakan lebih melalui diri kita serta untuk melakukan segala yang baik terhadap semua orang khususnya mereka yang disebut saudara seiman, kita ada dalam satu posisi yang baik untuk menetapkan inisiatif-inisiatif yang tepat.
Bila kita gagal mengambil inisiatif, akan menjadi sangat penting dipertimbangkan kembali, bagaimana hubungan kita dengan Tuhan dan Roh Kudus sekarang
Sebab kita bisa mendukakan Roh Kudus Allah, dengan tidak mengakui kesalahan atau dosa yang telah diperbuat, kita tidak dapat mendengar bimbinganNya.
Kita mendengarpun, akan gagal mematuhiNya karena kita mendukakan Dia dengan ketidakpatuhan kita. “ Jika kita mengaku segala dosa kita, maka Allah setia dan adil, mengampuni segala dosa kita, dan menyucikan kita dari segala kejahatan kita” 1 Yoh.1:9

CONTOH-CONTOH INISIATIF DALAM KITAB SUCI
1. Musa berinisiatif membebaskan bani Israel dari perbudakan. Tindakan pertama dia tidaklah benar, namun Allah menghargai tujuannya dan mempersiapkan dirinya menggenapi visinya itu. Kel. 2-3
2. Daud menunjukkan inisiatif sementara ia menjagai domba peliharaan keluarga dengan menggali potensi diri dalam segala aspek yang berguna bagi bangsa dan Tuhan. 1 Sam.17. Maz.78:71-72
3. Naaman mengambil inisiatif dengan mendatangi Eliza demi kesembuhannya. Saat dia mengikuti instruksi yang diberikan oleh sang abdi Allah, ia disembuhkan. 2 Raj.5
4. Nehemia mengambil inisiatif membangun kembali tembok Yerusalem. Neh.1,2
5. Orang muda yang kaya berinisiatif menghampiri Yesus. Luk.18

E V A L U A S I P R I B A D I
1. Adakah aku berinisiatif untuk mencari wajah Allah hari ini?
2. Adakah aku berinisiatif untuk mendapatkan pimpinanNya bagi hidupku melalui pembacaan Alkitab?
3. Adakah inisiatifku untuk mengingat dan merenungkan firmanNya hari ini?
4. Adakah inisiatifku untuk memulihkan hubungan dengan siapa aku bermasalah?
5. Adakah inisiatifku mencegah doa yang terkantuk-kantuk dan ngawur?
6. Apakah ada inisiatif untuk melakukan puasa demi percepatan sesuatu?
7. Adakah inisiatif mempersembahkan sesuatu yang special di hari aku beribadah raya nanti ?
8. Apa partisipasiku terhadap sesuatu yang sedang dilakukan keluarga dan gerejaku?
9. Apalagi inisiatif yang bisa dilakukan untuk kerapihan dan keindahan dalam rumah dan gerejaku?
10. Apa inisiatifku demi visi gerejaku yang kokoh dan berpribadi seperti Kristus itu? Siapa lagi yang bisa kubawa dan kubimbing kedalam hubungan mengalami Kristus?